Kependudukan

Proyek KTP Elektronik di NTT Seret

Kompas.com - 19/09/2011, 17:51 WIB

KUPANG, KOMPAS.com - Pelaksanaan proyek Kartu Tanda Penduduk (KTP) elektronik di Nusa Tenggara Timur, seret. Hingga saat ini sebagian peralatan vital yang dibutuhkan untuk proses pembuatan KTP elektronik itu belum tiba di lapangan atau hingga kecamatan yang telah ditentukan.

Akibatnya rencana kegiatan uji coba peluncuran perdana yang dijadwalkan Kamis (22/9/2011) terpaksa ditunda, hingga waktu yang belum dipastikan.

Hal itu terungkap dalam percakanan dengan Kepala Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Pemerintah Kota Kupang, Jerhans Adolf Ledo, di Kupang, Nusa Tenggara Timur, Senin (19/9/2011) siang.

Percakapan itu dihadiri Ahmad Burhanuddin dari Kementerian Dalam Negeri. Ia adalah satu dari tiga anggota pemantau pelaksanaan KTP elektronik di NTT. Juga hadir Willem Kana dari PT Quadra, satu dari lima anggota konsorsium mitra Percetakan Negara sebagai penanggungjawab proyek KTP elektronik secara nasional.                

Di NTT, Kota Kupang dan Kabupaten Ende termasuk dalam 197 kota/kabupaten di seluruh Indonesia untuk penerapan awal KTP elektronik, dengan target harus rampung 31 Desember 2011.  

Sesuai dengan tahapan rencana pelaksanakannya, hingga memasuki pekan ketiga September ini, seluruh perangkat peralatan yang dibutuhkan harus sudah sampai di lini terakhir, yakni di tingkat kecamatan. Namun fakta di lapangan menunjukkan sebagian perangkat termasuk perangkat vitalnya, belum juga tiba.                

Menurut catatan, proses pembuatan KTP elektronik setidaknya harus didukung 21 perangkat, termasuk 11 di antaranya perangkat vital. Kelompok perangkat terakhir itu masing masing printer ribbon, printer personalisasi, scanner digital, kamera digital, signature pad, iris scanner, fingerprint, monitor LCD, server AFIS dan jaringan. 

Pelaksanaan KTP elektronik di Kota Kupang meliputi enam kecamatan, yakni Kelapa Lima, Oebobo, Maulafa, Alak, Kota Raja dan Kota Lama, dengan warga wajib KTP elektronik kini 329.902 jiwa. Pemerintah setempat sebenarnya menjadwalkan uji coba peluncuran perdana KTP elektronik di Kecamatan Kelapa Lima, Kamis (22/9/2011). Namun hingga kini masih belum tersedia sejumlah perangkatnya, termasuk tiga perangkat utama yakni scanner digital, printer sosialisasi dan printer ribbon.                

"Kecamatan Kelapa Lima sejak awal memang disiapkan untuk uji coba peluncuran perdana KTP elektronik, namun ternyata di kecamatan itu juga perangkat yang diperlukan hingga sekarang belum lengkap," keluh Jerhans Ledo, yang juga dibenarkan Ahmad Burhanuddin.

Sementara di lima kecamatan lainnya, kekurangan perangkat vitalnya malah bertambah satu lagi, yakni kamera digital. Kondisi serupa malah lebih parah di Kabupaten Ende.

Meski begitu, Ahmad Burhanuddin dan Jerhans Ledo tetap optimistis penerapan KTP elektronik tahap awal ini akan rampung pada waktunya, 31 Desember mendatang. "Mungkin akan dipacu melalui kerja lembur," kata Jerhans Ledo.                

Seretnya pendistribusian berbagai perangkat hingga tingkat kecamatan, diduga akibat lemahnya koordinasi antara Percetakan Negara sebagai pelaksanan proyek dengan kalangan mitra anggota konsorsioumnya. Mitra dimaksud di antaranya, Sucofindo, Quadra dan Indosat.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau